Novel Mismatch merupakan karya kedua dari Arata Kim, setelah novel debutnya, Asmaraloka yang mampu mencuri perhatian banyak orang sehingga menjadi buku best seller. Novel dengan total 336 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada 6 September 2022.


Novel Mismatch adalah novel Metropop, yaitu karya sastra fiksi yang menyajikan kisah mengenai semua sisi kehidupan masyarakat urban kalangan menengah, yang tinggal di kota besar. Disebut metropop, karena kisah ini berputar di dunia metropolitan dan ditulis dengan gaya bahasa pop. Novel metropop ini ditulis untuk orang muda, dengan latar yang sesuai dan kalimat yang mudah dimengerti.


Kenizia selalu menganggap Giovanni sebagai cowok bawel yang bisa diandalkan selama mereka bersahabat selama belasan tahun. Tak pernah dia duga, sahabatnya itu akan melamarnya di acara pernikahan Adit dan Risa, yang merupakan sahabat mereka juga. Meskipun Ken menghindar, Gio terus berusaha keras untuk mendekat.

Kesibukan Gio sebagai dokter spesialis jantung tak menghalangi tekadnya untuk menaklukkan hati Ken. Meski hubungan keduanya menjadi canggung, mereka akhirnya sepakat untuk saling mengenal lebih dari sekadar sebagai sahabat. Oleh karena usaha Gio, Ken akhirnya jatuh hati.


Dia bahkan tetap memprioritaskan Gio ketika didekati oleh klien kantornya yang bernama Panji. Namun, kejadian demi kejadian membuat Ken mulai mempertanyakan keseriusan Gio. Oleh karena tidak mau terus-menerus berprasangka, Ken memutuskan untuk bertanya langsung kepada Gio. Ketika menemukan jawabannya, Ken harus kembali merenungkan hubungannya yang lebih dari sahabat.


Bagi Grameds yang sedang mencari novel romansa yang ringan dan menggemaskan, novel Mismatch ini dapat menjadi pilihan yang tepat. Ini adalah kisah tentang sahabat jadi cinta. Penasaran akan kelanjutan kisah cinta Ken dan Gio? Yuk intip lebih banyak dengan membaca artikel ini hingga selesai.

“Kapan nikah?”


Kenizia Wiantari gak tahu kalau pertanyaan singkat itu ternyata bisa mengubah hidupnya begitu drastis. Dulu Ken sering membaca curhatan orang di media sosial yang berisi keluhan jika diberikan pertanyaan itu. Terkesan lebay mungkin, mengingat dari dulu, Ken selalu diajarkan bahwa pernikahan itu hal yang serius dan tidak bisa dipaksakan.


Pernikahan manusia bukan seperti kucing yang tinggal mengeong dan menggigit leher, kemudian hamil dan melahirkan saja. Ini adalah tentang menemukan seseorang yang tepat pada waktu yang tepat.


Pada awalnya, prinsip Ken begitu. Sebelum usia dan lingkungan sekitarku akhirnya mulai menyerang, membuktikan dua kata yang diikuti tanda tanya itu sudah cukup untuk membuat seseorang gusar.


Berlebihan? Rasanya komentar itu lebih cocok diajukan kepada keluarga besar Ken. Pertanyaan itu biasanya masih dilanjutkan lagi dengan kalimat penuh tuntutan seperti, “Kamu sudah gak muda lagi, makin tua nanti makin susah cari suami.” Coba aja berkata begitu tapi ngasih bantuan atau sodorin pasangan yang tanggung jawab, punya pekerjaan yang mapan, sanggup membiayai anak dan istri di masa depan, dan setia kepada Tuhan serta negara.


Sayangnya, Itu hanya harapan yang tak akan terwujud. Bagaimanapun, Ken tahu bahwa mencari jodoh bukan merupakan hal mudah. Ken sudah mencobanya. Kerap kali dibantu juga dari luar, dan tidak tentu sukses juga.


Jika mengikuti teori, manusia pada dasarnya memang makhluk sosial yang memerlukan dukungan dan dorongan dari sesamanya. Dan sejujurnya, Ken lebih menikmati perannya sebagai pendorong.


Berhubung minggu ini pekerjaan Ken belum terlalu padan, ia memutuskan untuk menikmati waktu kosongnya dengan bersantai. Opsi utama dan yang paling menyenangkan jatuh kepada Lima Sekawan versi bobrok. Dari tadi siang, Ken sudah mengajak empat sahabatnya untuk nonton bareng.


Sayangnya, yang paling sering menjawab hanya satu orang, Giovanni Pranaja. Ken hanya bisa geleng-geleng. Gio memang unik, kena orang-orang yang berprofesi sebagai dokter biasanya paling sibuk. Namun, justru Gio bisa menjadi yang paling aktif di grup. Walaupun ia sering menolak, tetapi kemudian dengan mudah goyah hanya dengan tawaran condel alias coconut delight, susu rasa kelapa.


Dalam hidup, ada fase saat kita gak hanya berkaki dua. Bukan makna gamblang secara harfiah, ya. Orang bilang, saat kecil kita memiliki empat kaki, dan ketika tua akan berkaki tiga. Menurutku, ada satu fase saat kita akan mendapat ekstra kaki walaupun itu sepasang


alat gerak yang sama sekali tak melekat di tubuh kita.


Hal itu ada pada orang lain, yaitu pasangan kita. Tahu kan bahwa pernikahan itu hal serius saat dua orang memutuskan untuk menjadi satu? Kita diwajibkan melangkah bersama dan tak peduli apapun halangan di depan. Bagaimanapun akhirnya, tujuan awal pernikahan sesederhana membuat hidup menjadi tidak hanya milik sendiri, tetapi menjadi sesuatu yang dibagikan dan dijalankan bersama.


Kedengarannya sangat manis, ya. Terlepas dari realita tingginya angka perceraian, aku gak bisa menolak fakta bahwa pernikahan adalah hal membahagiakan dan harus disyukuri, juga langkah besar yang membutuhkan sangat banyak pertimbangan. Keputusan seumur hidup itu memerlukan orang dan waktu yang tepat.


Poin utamanya, yaitu menikah bukan sebuah perkara yang mudah. Setidaknya begitu yang aku percaya sebelum cowok itu, di tengah-tengah keramaian pesta pernikahan sahabat kamu, dengan santainya bertanya, “Ken, nikah yuk?”.


Aku melotot mendengarnya, tetapi pelakunya justru balik menatapku dengan santai, seakan-akan pertanyaannya tadi tidak lebih dari ajakan makan siang. “Gimana, Ken? Mau?”, sambungnya. Tuhan, tolong! Apakah dia gila? Atau aku yang sedang berhalusinasi sekarang? Pak dokter ini gak salah minum obat kan? Sampai bisa tiba-tiba melamarku begini?